Radial Antena Ground Plane: Cara Kerja dan Menentukan Panjang yang Tepat

Radial Antena Ground Plane: Cara Kerja dan Menentukan Panjang yang Tepat

Radial antena ground plane merupakan bagian penting dalam konstruksi antena vertikal. Radial tidak hanya berfungsi sebagai penghantar yang terhubung ke sisi ground konektor coaxial, tetapi juga bekerja sebagai counterpoise yang menjadi bagian dari sistem antena.

Pada antena quarter-wave ground plane, elemen vertikal dan radial bekerja bersama membentuk sistem resonansi. Karena itu, ukuran, jumlah, posisi, serta sudut radial dapat memengaruhi impedansi, pola radiasi, dan nilai SWR antena.

Menentukan ukuran radial sebenarnya tidak sulit. Sebagai titik awal, panjang radial dapat dihitung berdasarkan 1/4 panjang gelombang dari frekuensi kerja. Setelah antena dirakit, ukuran tersebut dapat disesuaikan kembali berdasarkan hasil pengukuran menggunakan SWR meter atau NanoVNA.

Ilustrasi antena ground plane VHF yang menampilkan elemen vertikal di tengah dan elemen radial yang menyebar di bagian bawah sebagai counterpoise. Susunan elemen vertikal dan radial pada antena ground plane VHF, di mana radial berfungsi sebagai counterpoise utama untuk membentuk sistem resonansi yang optimal.

Pengertian Radial Antena Ground Plane

Radial adalah konduktor yang dipasang pada bagian bawah antena ground plane dan biasanya terhubung dengan sisi ground atau shield dari konektor coaxial. Radial membentuk bidang referensi RF untuk elemen vertikal.

Berbeda dengan sistem antena yang menggunakan tanah sebagai bagian dari sistem radiasi, ground-plane antenna menggunakan sejumlah radial sebagai counterpoise. Oleh karena itu, radial mempunyai pengaruh langsung terhadap karakteristik listrik antena.

Dalam konstruksi sederhana, elemen vertikal dipasang tegak ke atas, sedangkan beberapa radial dipasang menyebar dari titik feed point.

Fungsi Radial pada Antena Ground Plane

Radial memiliki beberapa fungsi utama dalam sistem antena ground plane:

  1. Sebagai Counterpoise: Fungsi utama radial adalah menyediakan bagian penghantar yang bekerja berpasangan dengan elemen vertikal. Arus RF pada elemen vertikal mempunyai hubungan dengan arus RF yang mengalir pada radial.
  2. Membentuk Referensi RF: Radial menyediakan bidang referensi bagi sistem antena. Kondisi radial yang baik membantu menghasilkan karakteristik impedansi yang lebih sesuai dengan sistem feed line 50 ohm.
  3. Memengaruhi Impedansi Feed Point: Jumlah dan sudut radial dapat memengaruhi impedansi pada titik feed. Karena itu, mengubah posisi radial dapat menyebabkan perubahan nilai SWR.
  4. Membantu Membentuk Pola Radiasi: Radial merupakan bagian aktif dari sistem antena sehingga konfigurasi radial ikut memengaruhi distribusi arus RF dan pola radiasi antena.

Cara Kerja Radial Antena

Pada antena ground plane, sinyal RF dari radio masuk melalui kabel coaxial menuju titik feed. Konduktor tengah coaxial terhubung ke elemen vertikal, sedangkan shield coaxial terhubung ke radial.

Saat radio melakukan transmisi, arus RF mengalir pada elemen vertikal dan mempunyai jalur balik melalui sistem radial. Interaksi antara elemen vertikal dan radial inilah yang membentuk sistem antena.

Karena radial merupakan bagian dari sistem RF, ukuran radial tidak boleh dianggap sebagai bagian yang tidak berpengaruh. Perubahan panjang radial maupun sudut pemasangannya dapat mengubah karakteristik antena.

Berapa Jumlah Radial yang Dibutuhkan?

Tidak ada satu jumlah radial yang berlaku untuk semua desain antena. Namun, penggunaan beberapa radial yang dipasang secara simetris merupakan pendekatan yang umum digunakan pada ground-plane antenna.

Jumlah Radial Keterangan
1 Bisa digunakan pada kondisi tertentu, tetapi sistem menjadi tidak simetris.
2 Lebih baik daripada satu radial, tetapi distribusi radial masih terbatas.
3 Sudah dapat membentuk bidang radial yang lebih merata.
4 Konfigurasi praktis yang banyak digunakan pada ground plane.
>4 Dapat digunakan untuk membentuk counterpoise yang lebih merata sesuai desain.

Yang paling penting bukan hanya jumlahnya, tetapi juga kesimetrisan pemasangan. Radial sebaiknya disebar secara merata dari titik feed agar distribusi arus RF lebih seimbang.

Cara Menghitung Panjang Radial Antena

Panjang radial dapat dihitung menggunakan panjang gelombang dari frekuensi kerja. Rumus dasar panjang gelombang adalah:

λ = 300 / f

Keterangan:

  • λ = panjang gelombang dalam meter
  • 300 = pendekatan kecepatan gelombang radio dalam meter per detik
  • f = frekuensi dalam MHz

Untuk radial quarter-wave, digunakan rumus:

Panjang radial = λ / 4

Sehingga rumus sederhananya dapat ditulis:

Panjang radial = 300 / f / 4

atau

Panjang radial = 75 / f(MHz)

Contoh Menghitung Radial Antena VHF 142,500 MHz

Sebagai contoh, kita akan menentukan panjang awal radial untuk antena ground plane yang bekerja pada frekuensi 142,500 MHz.

Langkah pertama adalah menghitung panjang gelombangnya:

λ = 300 / 142,5
λ ≈ 2,105 meter

Selanjutnya menentukan 1/4 panjang gelombang:

2,105 / 4 = 0,526 meter

Jadi panjang awal radial secara teoritis sekitar 52,6 cm.

Parameter Nilai
Frekuensi 142,500 MHz
Panjang gelombang ≈ 2,105 m
1/4 gelombang ≈ 0,526 m
Panjang awal radial ≈ 52,6 cm

Angka 52,6 cm tersebut merupakan ukuran teoritis yang dapat digunakan sebagai titik awal. Pada antena nyata, ukuran akhir belum tentu persis sama karena terdapat pengaruh diameter konduktor, konstruksi antena, lingkungan sekitar, konektor, posisi pemasangan, serta faktor lainnya.

Apakah Radial Harus Persis 1/4 Lambda?

Tidak harus persis. Nilai 1/4 panjang gelombang merupakan titik awal yang sangat berguna untuk konstruksi ground-plane quarter-wave.

Setelah antena selesai dibuat, lakukan pengukuran pada frekuensi target. Jika titik resonansi berada terlalu tinggi atau terlalu rendah, panjang radial dan konfigurasi antena dapat disesuaikan secara bertahap.

Karena itu, jangan langsung memotong radial tepat sesuai hasil kalkulator. Lebih aman membuat radial sedikit lebih panjang terlebih dahulu sehingga masih tersedia ruang untuk melakukan tuning.

Pengaruh Sudut Radial terhadap Antena

Sudut radial terhadap elemen vertikal dapat memengaruhi impedansi antena. Radial yang dipasang horizontal mempunyai karakteristik berbeda dengan radial yang dibuat miring ke bawah.

Pada banyak desain ground plane, radial dibuat sedikit miring ke bawah untuk memperoleh karakteristik impedansi yang lebih sesuai. Namun, sudut yang tepat tetap bergantung pada desain, frekuensi, jumlah radial, dan kondisi pemasangan.

Karena itu, sudut radial juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu parameter tuning tanpa harus langsung mengubah panjang elemen.

Material untuk Membuat Radial

Radial dapat dibuat menggunakan berbagai jenis konduktor, selama mempunyai sambungan listrik yang baik dan konstruksinya cukup kuat:

  • Kawat tembaga
  • Kawat aluminium
  • Batang aluminium
  • Konduktor logam lain yang sesuai untuk konstruksi antena

Diameter konduktor juga dapat memengaruhi karakteristik antena. Konduktor yang lebih besar umumnya mempunyai bandwidth yang berbeda dibandingkan konduktor yang sangat tipis.

Kesalahan Umum dalam Membuat Radial

  1. Radial Tidak Simetris: Radial yang dipasang tidak merata dapat menyebabkan distribusi arus RF menjadi tidak seimbang.
  2. Radial Terlalu Pendek: Jika radial dipotong terlalu pendek sejak awal, proses tuning menjadi lebih sulit karena tidak tersedia material untuk menambah panjang.
  3. Sambungan Radial Kurang Baik: Sambungan mekanis yang longgar atau mengalami korosi dapat meningkatkan resistansi dan mengganggu kinerja sistem antena.
  4. Menganggap Radial Sama dengan Ground Bumi: Radial pada ground-plane antenna berfungsi sebagai bagian dari sistem RF atau counterpoise. Istilah ground pada konektor coaxial tidak selalu berarti harus disambungkan langsung ke tanah bumi.
  5. Hanya Mengandalkan Perhitungan: Perhitungan merupakan titik awal, sedangkan antena yang sudah terpasang perlu diuji secara aktual. Hasil pengukuran dapat berbeda dari nilai teoritis akibat kondisi lingkungan dan konstruksi.

Tips Tuning Radial Antena Ground Plane

  1. Tentukan frekuensi kerja utama antena.
  2. Hitung panjang radial menggunakan rumus 1/4 lambda.
  3. Buat radial sedikit lebih panjang dari hasil perhitungan.
  4. Pasang radial secara simetris.
  5. Ukur SWR pada frekuensi target.
  6. Gunakan NanoVNA jika ingin melihat kurva resonansi dan impedansi.
  7. Lakukan perubahan ukuran secara bertahap.
  8. Ukur kembali setiap selesai melakukan perubahan.

Jangan melakukan pemotongan dalam jumlah besar sekaligus. Tuning antena akan lebih mudah jika perubahan dilakukan sedikit demi sedikit sehingga pengaruh setiap perubahan dapat diamati.

FAQ Radial Antena Ground Plane

Apakah radial antena harus 1/4 gelombang?
Tidak selalu, tetapi 1/4 panjang gelombang merupakan titik awal yang umum untuk antena ground plane quarter-wave. Ukuran akhirnya dapat disesuaikan berdasarkan desain dan hasil pengukuran.

Berapa jumlah radial yang ideal?
Tidak ada jumlah yang mutlak untuk semua antena. Empat radial merupakan konfigurasi praktis yang umum digunakan, tetapi desain tertentu dapat menggunakan jumlah radial yang berbeda.

Apakah radial harus ditanam ke tanah?
Tidak. Pada ground-plane antenna, radial berfungsi sebagai counterpoise dan merupakan bagian dari sistem antena. Radial tidak harus ditanam ke tanah agar dapat bekerja.

Apakah panjang radial harus sama dengan elemen vertikal?
Tidak harus. Pada desain quarter-wave ground plane, radial umumnya dimulai dari sekitar 1/4 panjang gelombang, tetapi konfigurasi aktual bergantung pada desain antena.

Apakah sudut radial memengaruhi SWR?
Ya. Perubahan sudut radial dapat mengubah impedansi feed point sehingga nilai SWR juga dapat berubah.

Bagaimana cara menentukan panjang radial yang paling tepat?
Gunakan perhitungan 1/4 panjang gelombang sebagai ukuran awal, kemudian lakukan pengukuran dan tuning pada frekuensi kerja yang ditargetkan.

Apakah radial yang lebih banyak selalu membuat antena lebih bagus?
Tidak selalu. Jumlah radial harus dilihat bersama dengan panjang, diameter, sudut, susunan, dan kondisi pemasangan. Menambah radial tidak otomatis menghasilkan peningkatan performa yang sama pada semua desain.

Apakah radial memengaruhi pola radiasi?
Ya. Karena radial merupakan bagian dari sistem antena, konfigurasi radial dapat memengaruhi distribusi arus dan pola radiasi antena.

Kesimpulan

Radial antena ground plane bukan sekadar kabel yang terhubung ke ground konektor coaxial. Radial merupakan bagian penting dari sistem antena yang berfungsi sebagai counterpoise dan ikut menentukan karakteristik impedansi serta pola radiasi.

Untuk desain quarter-wave ground plane, panjang awal radial dapat dihitung menggunakan rumus 1/4 panjang gelombang. Pada frekuensi 142,500 MHz, hasil perhitungan teoritis memberikan panjang sekitar 52,6 cm.

Namun, ukuran tersebut sebaiknya dianggap sebagai titik awal, bukan ukuran mutlak. Antena yang sudah selesai dirakit tetap perlu diuji karena faktor diameter konduktor, jumlah radial, sudut radial, lingkungan sekitar, tinggi pemasangan, dan konstruksi antena dapat memengaruhi hasil akhirnya.

Dengan kombinasi perhitungan matematis dan pengukuran SWR atau NanoVNA, panjang serta konfigurasi radial dapat dituning hingga antena bekerja lebih optimal pada frekuensi yang ditargetkan.

Baca Selengkapnya: Radial Antena Ground Plane: Cara Kerja dan Menentukan Panjang yang Tepat
Menentukan Panjang Kabel Coax 50 Ohm

Menentukan Panjang Kabel Coax 50 Ohm

Kabel coaxial 50 ohm merupakan salah satu bagian penting dalam sistem antena radio VHF. Kabel ini digunakan sebagai saluran transmisi antara radio dengan antena untuk menyalurkan energi RF.

Pada frekuensi 142,500 MHz, pemilihan jenis kabel, panjang kabel, velocity factor (VF), dan rugi-rugi kabel perlu diperhatikan, terutama jika kabel digunakan pada instalasi VHF dengan jarak cukup panjang.

Sebagai contoh, pada artikel ini digunakan kabel coax 50 ohm dengan panjang fisik 15 meter.

Apakah Kabel Coax 15 Meter Harus Dipotong untuk Frekuensi 142,500 MHz?

Tidak selalu. Jika kabel coax hanya digunakan sebagai feeder antara radio dan antena yang sudah mempunyai impedansi mendekati 50 ohm, panjang 15 meter tidak harus dibuat tepat seperempat atau setengah panjang gelombang.

Dalam sistem 50 ohm yang sudah match, panjang feeder terutama akan memengaruhi loss, delay, dan fase, bukan membuat radio hanya bisa bekerja pada frekuensi tertentu.

Panjang listrik kabel menjadi sangat penting apabila coax sengaja digunakan sebagai matching section, phasing line, atau coaxial stub. Pada kondisi tersebut velocity factor harus diperhitungkan.

Data Contoh Perhitungan

Parameter Nilai
Frekuensi kerja 142,500 MHz
Impedansi coax 50 ohm
Panjang fisik kabel 15 meter
Contoh velocity factor 0,66
Aplikasi Feeder VHF

1. Menghitung Panjang Gelombang di Udara

Rumus panjang gelombang di ruang bebas adalah:

λ = 300 / f

Dengan frekuensi 142,500 MHz:

λ = 300 / 142,5
λ = 2,105 meter

Jadi panjang gelombang elektromagnetik pada 142,500 MHz sekitar 2,105 meter.

2. Menghitung Panjang Gelombang di Dalam Coax

Gelombang RF di dalam coax bergerak lebih lambat dibandingkan di ruang bebas. Perbandingan kecepatan tersebut disebut velocity factor.

Untuk contoh ini digunakan VF 0,66.

λ coax = λ udara × VF

λ coax = 2,105 × 0,66

λ coax ≈ 1,389 meter

Jadi satu panjang gelombang secara elektrik di dalam kabel sekitar 1,389 meter.

Nilai VF 0,66 merupakan contoh umum untuk coax dengan dielectric polyethylene padat. Kabel dengan dielectric foam dapat mempunyai VF yang lebih tinggi, sehingga hasil perhitungannya akan berbeda.

3. Berapa Panjang 1/4 Gelombang Coax?

Jika kabel sengaja digunakan sebagai saluran seperempat gelombang, panjang fisiknya dihitung:

λ/4 = 1,389 / 4

λ/4 ≈ 0,347 meter

Jadi untuk kabel dengan VF 0,66 pada 142,500 MHz, panjang seperempat gelombangnya sekitar 34,7 cm.

4. Berapa Panjang 1/2 Gelombang Coax?

λ/2 = 1,389 / 2

λ/2 ≈ 0,694 meter

Jadi panjang setengah gelombang secara fisik sekitar 69,4 cm.

Panjang Elektrik Panjang Fisik dengan VF 0,66
1/4 λ ± 34,7 cm
1/2 λ ± 69,4 cm
1 λ ± 1,389 meter
2 λ ± 2,778 meter

5. Bagaimana dengan Kabel Coax 15 Meter?

Sekarang kita hitung panjang 15 meter terhadap panjang gelombang di dalam kabel.

15 / 1,389 ≈ 10,80 λ

Artinya kabel sepanjang 15 meter tersebut secara elektrik mempunyai panjang sekitar 10,8 panjang gelombang apabila VF kabel benar-benar 0,66.

Namun angka tersebut bukan berarti kabel 15 meter tidak boleh digunakan. Untuk feeder 50 ohm biasa, kabel tidak harus mempunyai panjang bulat 1/4 λ, 1/2 λ, atau 1 λ.

6. Jangan Memotong Kabel 15 Meter Hanya Berdasarkan Frekuensi

Ini merupakan kesalahan yang sering dilakukan ketika membuat instalasi antena VHF.

Jika antena sudah mempunyai impedansi sekitar 50 ohm dan coax juga 50 ohm, kabel sepanjang 15 meter tetap dapat digunakan selama rugi-rugi kabel masih dapat diterima.

Yang lebih penting adalah mengetahui:

  • Impedansi kabel 50 ohm.
  • Jenis dan kualitas dielectric.
  • Attenuation atau loss pada frekuensi 142,500 MHz.
  • Kondisi konektor.
  • Kualitas pemasangan PL-259 atau konektor lainnya.
  • Kondisi shield dan center conductor.
  • Rasio SWR antena.

7. Kalau Coax Digunakan sebagai Matching Section

Situasinya berbeda jika coax bukan sekadar feeder, tetapi sengaja digunakan sebagai bagian dari rangkaian matching.

Dalam kondisi tersebut panjang listrik harus diperhitungkan dengan velocity factor. Panjang fisik seperempat gelombang dan setengah gelombang tidak sama dengan hasil perhitungan panjang gelombang di udara.

Karena itu, menggunakan kabel dengan VF berbeda akan menghasilkan panjang fisik yang berbeda pula.

8. Contoh Jika Kabel Memiliki VF 0,80

Sebagai perbandingan, misalnya kabel yang digunakan mempunyai velocity factor 0,80.

λ coax = 2,105 × 0,80
λ coax ≈ 1,684 meter

1/4 λ = 1,684 / 4
      ≈ 0,421 meter

Hasilnya sekitar 42,1 cm, bukan 34,7 cm seperti kabel dengan VF 0,66.

Ini menunjukkan bahwa jenis kabel sangat menentukan panjang fisik ketika coax digunakan sebagai saluran dengan panjang listrik tertentu.

9. Jangan Menentukan VF dari Perkiraan Saja

Untuk pekerjaan presisi pada VHF, gunakan nilai velocity factor yang tercantum pada datasheet kabel. Jangan hanya menganggap semua coax 50 ohm mempunyai VF 0,66.

Coax 50 ohm dapat menggunakan dielectric yang berbeda sehingga velocity factor juga berbeda. Bahkan kabel dengan tipe yang sama dari produsen berbeda dapat mempunyai spesifikasi yang berbeda.

Jika panjang listrik sangat kritis, hasil perhitungan sebaiknya diverifikasi menggunakan antenna analyzer atau VNA.

10. Pengaruh SWR terhadap Kabel 15 Meter

Jika antena mempunyai SWR tinggi, kerugian pada kabel akan menjadi semakin penting karena terjadi pantulan energi RF antara antena dan radio.

Karena itu, sebelum menyalahkan panjang kabel, lakukan pengukuran SWR langsung pada sistem antena.

Jika memungkinkan, ukur:

  1. SWR di dekat feed point antena.
  2. SWR di ujung coax dekat radio.
  3. Kondisi konektor.
  4. Loss kabel.

Perbedaan hasil pengukuran dapat memberikan petunjuk apakah terdapat loss tinggi atau masalah pada kabel maupun konektor.

11. Rekomendasi untuk Instalasi 142,500 MHz

Untuk instalasi VHF pada 142,500 MHz dengan kabel coax sepanjang 15 meter, tidak perlu memotong kabel hanya untuk mengejar panjang gelombang tertentu apabila kabel digunakan sebagai feeder biasa.

Lebih baik menggunakan coax 50 ohm yang mempunyai loss rendah pada frekuensi VHF dan memasang konektor dengan baik.

Jika kabel digunakan sebagai bagian dari matching antenna atau phasing system, barulah panjang listrik harus dihitung secara khusus berdasarkan frequency, velocity factor, dan electrical length.

Kesimpulana

Pada frekuensi 142,500 MHz, panjang gelombang di ruang bebas sekitar 2,105 meter. Dengan contoh coax 50 ohm yang mempunyai velocity factor 0,66, panjang gelombang di dalam kabel menjadi sekitar 1,389 meter.

Sehingga panjang seperempat gelombang coax sekitar 34,7 cm, sedangkan setengah gelombang sekitar 69,4 cm.

Untuk kabel feeder sepanjang 15 meter, tidak ada kewajiban kabel tersebut harus dipotong menjadi kelipatan tertentu agar dapat digunakan pada 142,500 MHz. Yang paling penting adalah impedansi 50 ohm, loss kabel, kualitas konektor, dan kondisi matching antena.

Velocity factor baru menjadi sangat penting ketika panjang coax sengaja digunakan untuk menentukan fase, matching, phasing, atau stub. Karena itu, nilai VF harus mengikuti spesifikasi kabel yang sebenarnya dan untuk pekerjaan presisi sebaiknya diverifikasi dengan alat ukur RF seperti antenna analyzer atau VNA.

Baca Selengkapnya: Menentukan Panjang Kabel Coax 50 Ohm
Fungsi Resistor 0,1 ohm 5 watt  di power suply

Fungsi Resistor 0,1 ohm 5 watt di power suply

Pada Power supply linear dengan arus besar, transistor pass 2N3055 sering dipasang secara paralel untuk meningkatkan kemampuan membawa arus. Misalnya dua, tiga, atau lebih transistor 2N3055 digunakan bersama pada bagian out put.

Ketika beberapa transistor 2N3055 di paralel, masing-masing transistor tidak selalu mempunyai karakteristik VBE dan penguatan arus yang sama. Perbedaan ini juga dipengaruhi oleh proses produksi transistor secara massal di pabrik. Meskipun memiliki tipe dan nomor seri yang sama, setiap transistor tetap dapat mempunyai toleransi parameter akibat perbedaan kecil selama proses fabrikasi semikonduktor.

scema power suply linear ps010
scema powers uply ps-010Saturn electronics

Jika transistor langsung di paralel tanpa resistor pada emitor, pembagian arus dapat menjadi tidak seimbang.

Karena itu pada banyak desain power supply linear digunakan resistor bernilai rendah, misalnya 0,1 ohm, pada masing-masing emitor transistor 2N3055.

Fungsi Utama Resistor 0,1 Ohm 5 watt

Fungsi utama resistor 0,1 ohm 5 watt pada emitor transistor 2N3055 paralel adalah sebagai emitter ballast resistor atau resistor penyeimbang arus.

Resistor ini membantu membuat pembagian arus antar transistor menjadi lebih stabil. Ketika salah satu transistor mulai mengambil arus lebih besar, voltage drop pada resistor emitornya juga meningkat. Kondisi tersebut memberikan efek umpan balik negatif yang cenderung mengurangi arus transistor tersebut.

Dengan demikian transistor lain yang dipasang paralel dapat mengambil bagian arusnya masing-masing.

Kenapa 2N3055 Tidak Boleh Langsung Diparalel?

Secara teori, transistor yang identik dapat diparalel. Namun dalam praktiknya setiap transistor mempunyai perbedaan karakteristik, misalnya:

  • VBE tidak persis sama.
  • Gain atau hFE berbeda.
  • Karakteristik temperatur berbeda.
  • Resistansi internal berbeda.
  • Kondisi dan umur transistor dapat berbeda.
  • Hasil produksi massal di pabrik tidak pernah benar-benar identik.

Dalam produksi massal, transistor dengan tipe yang sama tetap di buat dalam batas toleransi tertentu. Perbedaan kecil pada proses fabrikasi dapat menyebabkan nilai VBE, hFE, leakage current, dan karakteristik temperatur setiap transistor sedikit berbeda.

Perbedaan tersebut dapat menyebabkan satu transistor mengambil arus lebih besar daripada transistor lainnya.

Jika transistor yang mengambil arus paling besar menjadi lebih panas, karakteristik transistor dapat berubah sehingga arusnya semakin meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan thermal runaway.

Cara Kerja Resistor Emitter 0,1 Ohm 5 watt

Resistor 0,1 ohm 5 watt dipasang secara seri pada masing-masing emitor transistor 2N3055.

Secara sederhana susunannya dapat digambarkan seperti berikut:

             + OUTPUT
                 |
         +-------+-------+
         |       |       |
        C|      C|      C|
     2N3055   2N3055  2N3055
        E|      E|      E|
        R       R       R
      0,1Ω    0,1Ω    0,1Ω
        |       |       |
         +------+------+
                 |
              LOAD (-)

Setiap transistor mempunyai resistor emitornya sendiri. Resistor tersebut tidak dipasang satu resistor untuk seluruh transistor, tetapi masing-masing transistor mendapat resistor emitter.

Bagaimana Resistor Ini Menyeimbangkan Arus?

Misalnya terdapat dua transistor 2N3055 yang dipasang paralel. Karena perbedaan karakteristik akibat toleransi produksi pabrik, transistor pertama cenderung mengambil arus lebih besar.

Ketika arus transistor pertama meningkat, arus yang melewati resistor 0,1 ohm juga meningkat. Akibatnya voltage drop pada resistor tersebut meningkat.

Voltage drop ini membuat tegangan emitter transistor naik relatif terhadap basisnya sehingga kecenderungan transistor untuk mengambil arus lebih besar menjadi berkurang.

Inilah mekanisme negative feedback lokal yang membantu menyeimbangkan arus kedua transistor.

Contoh Perhitungan

Misalkan satu transistor 2N3055 mengalirkan arus sebesar 5 A melalui resistor emitter 0,1 ohm.

Voltage drop pada resistor:

V = I × R

V = 5 × 0,1 = 0,5 V

Jadi terdapat sekitar 0,5 V pada resistor emitter tersebut.

Daya yang dibuang resistor:

P = I² × R

P = 5² × 0,1 = 2,5 W

Artinya pada arus 5 A, resistor 0,1 ohm membutuhkan rating daya yang cukup. Dalam praktik desain power supply, rating resistor sebaiknya mempunyai margin yang memadai terhadap disipasi normal dan kondisi beban.

Kenapa Nilainya 0,1 Ohm?

Nilai 0,1 ohm merupakan kompromi antara efektivitas balancing dan penurunan tegangan output.

Jika nilai resistor terlalu besar, pembagian arus memang semakin kuat tetapi voltage drop dan disipasi daya juga meningkat.

Sebaliknya, jika nilainya terlalu kecil, efek penyeimbangan arus menjadi semakin lemah.

Nilai Resistor Efek
0,01 Ω Voltage drop kecil, efek balancing lebih lemah
0,05 Ω Balancing lebih ringan dengan drop rendah
0,1 Ω Sering digunakan sebagai kompromi balancing dan voltage drop
0,22 Ω Balancing lebih kuat tetapi voltage drop dan panas meningkat

Resistor Harus Dipasang pada Setiap Emitor

Ini bagian yang sangat penting ketika merakit atau memperbaiki power supply linear menggunakan beberapa 2N3055.

Jangan memasang satu resistor 0,1 ohm setelah semua emitor digabung jika tujuan resistor tersebut adalah menyeimbangkan arus antar transistor.

Konfigurasi yang benar adalah:

diagram transistor final powersuply
scema final untuk power suply linear

Dengan konfigurasi tersebut, setiap transistor mempunyai resistansi emitter masing-masing sehingga mekanisme balancing dapat bekerja secara individual.

Apakah Resistor 0,1 Ohm 5watt Bisa Diganti Kawat?

Tidak disarankan.

Jika resistor emitter 0,1 ohm diganti dengan kawat, efek ballast resistor hilang. Transistor yang mempunyai karakteristik sedikit lebih kuat dapat mengambil arus lebih besar daripada transistor lainnya.

Pada beban tinggi, ketidakseimbangan tersebut dapat menyebabkan salah satu transistor bekerja jauh lebih berat dan mengalami panas berlebih.

Apakah Semua Power Supply 2N3055 Wajib Menggunakan 0,1 Ohm 5 watt ?

Tidak harus 0,1 ohm. Nilai resistor ditentukan berdasarkan desain rangkaian, jumlah transistor, target arus, karakteristik transistor, dan metode pembagian arus yang digunakan.

Yang penting adalah memahami bahwa ketika resistor tersebut berfungsi sebagai emitter ballast, nilainya harus dipilih berdasarkan kebutuhan rangkaian dan kemampuan daya resistor.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Memparalel 2N3055 tanpa resistor emitter.
  • Menggunakan satu resistor untuk seluruh transistor.
  • Mengganti resistor 0,1 ohm dengan jumper.
  • Menggunakan resistor dengan watt terlalu kecil.
  • Memasang transistor tanpa memperhatikan pendinginan.
  • Mengabaikan perbedaan karakteristik transistor.
  • Menguji power supply pada arus besar tanpa pembatas arus.

Kesimpulan

Pada power supply linear yang menggunakan beberapa transistor 2N3055 secara paralel, resistor 0,1 ohm pada masing-masing emitor berfungsi terutama sebagai emitter ballast resistor untuk membantu membagi dan menyeimbangkan arus antar transistor.

Perbedaan karakteristik antar transistor dapat terjadi karena toleransi komponen, kondisi penggunaan, dan proses produksi transistor secara massal di pabrik. Oleh karena itu, transistor dengan tipe yang sama pun belum tentu mempunyai VBE, hFE, dan kemampuan menghantarkan arus yang benar-benar identik.

Resistor ini menghasilkan sedikit voltage drop ketika arus mengalir. Voltage drop tersebut memberikan negative feedback lokal sehingga transistor yang cenderung mengambil arus terlalu besar akan mengalami pengurangan kecenderungan arusnya.

Karena bekerja pada arus besar, resistor 0,1 ohm juga harus mempunyai rating daya yang sesuai. Jangan menggantinya dengan kawat atau jumper karena dapat menghilangkan fungsi balancing dan meningkatkan risiko ketidakseimbangan arus serta thermal runaway pada transistor 2N3055.

Baca Selengkapnya: Fungsi Resistor 0,1 ohm 5 watt di power suply
Analisa Radio DR 135 mati total

Analisa Radio DR 135 mati total

Alinco DR-135 MK3 merupakan radio komunikasi VHF mobile yang membutuhkan suplai DC stabil agar seluruh rangkaian dapat bekerja normal. Kondisi mati total ditandai dengan display tidak menyala, lampu indikator tidak aktif, tombol power tidak memberikan respons, dan radio tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan ketika di beri tegangan.

Pada kondisi seperti ini, jangan langsung menyimpulkan bahwa IC CPU atau final amplifier rusak. Pemeriksaan sebaiknya di lakukan secara sistematis mulai dari bagian yang paling sederhana, yaitu jalur input DC,fuse, kemudian di lanjutkan menuju rangkaian proteksi, regulator, dan rangkaian kontrol.

Peralatan yang Dibutuhkan

No Peralatan Fungsi
1 Multimeter Digital Mengukur tegangan DC, resistansi, kontinuitas, dan diode.
2 DC Power Supply 13,8 V Sumber tegangan untuk menguji radio dan memastikan suplai sesuai.
3 Bench Power Supply Current Limit Membatasi arus saat pengujian dan membantu mendeteksi short circuit.
4 Solder 60–80 Watt Melepas dan memasang komponen elektronik pada PCB.
5 Timah Solder Digunakan untuk penyolderan komponen dan perbaikan sambungan solder.
6 Pinset Elektronik Membantu memegang komponen kecil saat proses servis.
7 Kaca Pembesar / Magnifier Memeriksa solder retak, jalur PCB putus, dan kerusakan komponen.
8 ESR Meter Memeriksa kondisi kapasitor elektrolit jika diperlukan.
9 Obeng Set Membuka casing dan bagian mekanis radio.
10 Contact Cleaner Membersihkan konektor, sakelar, dan bagian kontak yang kotor atau teroksidasi.
Sketsa kerusakan dr 135 mati total
tracking kerusakan alinco dr 135

1. Periksa Tegangan Power Supply

Langkah pertama adalah memastikan sumber tegangan benar-benar tersedia. Radio mobile seperti DR-135 MK3 umumnya bekerja menggunakan suplai DC sekitar 13,8 V.

Ukur tegangan langsung pada power supply menggunakan multimeter. Jangan hanya mengandalkan indikator pada power supply.

Jika tegangan supply normal tetapi radio tetap mati, lanjutkan pemeriksaan pada kabel power dan konektor radio.

Pemeriksaan

  • Ukur tegangan output power supply.
  • Pastikan polaritas positif dan negatif benar.
  • Periksa kabel merah sebagai jalur positif.
  • Periksa kabel hitam sebagai jalur negatif.
  • Pastikan konektor tidak longgar atau berkarat.

2. Periksa Fuse pada Jalur Power

Jika tegangan dari power supply sudah normal, pemeriksaan berikutnya adalah fuse. Fuse berfungsi sebagai pengaman ketika terjadi arus berlebih atau kesalahan pada rangkaian power.

Lepaskan sumber tegangan sebelum melakukan pengukuran kontinuitas.

Gunakan mode continuity pada multimeter kemudian ukur kedua sisi fuse. Fuse yang normal akan menunjukkan kontinuitas, sedangkan fuse putus tidak menunjukkan hubungan listrik.

Jangan mengganti fuse dengan kawat atau fuse dengan rating sembarangan. Jika fuse kembali putus setelah diganti, jangan dipaksakan menyalakan radio karena kemungkinan terdapat short circuit pada bagian berikutnya.

3. Periksa Jalur Input DC

Setelah fuse dipastikan normal, lanjutkan pemeriksaan jalur DC dari konektor power menuju PCB.

Gunakan mode DC Voltage pada multimeter. Hubungkan probe hitam ke ground/chassis dan probe merah mengikuti jalur positif dari konektor power.

Tujuannya adalah mengetahui sampai titik mana tegangan DC masih tersedia.

Urutan Pemeriksaan

  1. Konektor power.
  2. Fuse.
  3. Jalur PCB positif.
  4. Komponen proteksi polaritas.
  5. Jalur menuju regulator.
  6. Output regulator.

Jika tegangan hilang setelah melewati komponen tertentu, fokus pemeriksaan diarahkan pada komponen atau jalur tersebut.

4. Periksa Proteksi Polaritas Terbalik

Radio mobile biasanya mempunyai rangkaian proteksi untuk mencegah kerusakan akibat kesalahan polaritas power supply. Bagian ini dapat menggunakan diode atau rangkaian transistor/MOSFET tergantung desain perangkat.

Jika radio pernah terhubung ke sumber tegangan dengan polaritas terbalik, bagian proteksi menjadi salah satu area yang wajib diperiksa.

Dengan radio dalam kondisi tanpa power, lakukan pengukuran resistansi atau diode test pada komponen proteksi.

Jika ditemukan short circuit permanen, jangan langsung mengganti komponen tanpa mencari penyebabnya. Periksa juga jalur setelah rangkaian proteksi untuk memastikan tidak terdapat short pada beban.

5. Periksa Short Circuit pada Jalur DC

Sebelum memberikan tegangan penuh, lakukan pemeriksaan resistansi antara jalur positif DC dan ground.

Jika resistansi sangat rendah dan menunjukkan indikasi short, jangan langsung menghubungkan radio ke power supply 13,8 V dengan arus besar.

Gunakan bench power supply dengan current limit untuk membantu proses diagnosis.

Jika arus langsung naik tinggi ketika tegangan diberikan, matikan supply dan lanjutkan pencarian komponen yang mengalami short.

6. Periksa Tegangan Regulator

Jika jalur input DC normal dan tidak ditemukan short besar, pemeriksaan berikutnya adalah rangkaian regulator.

Regulator bertugas menghasilkan beberapa tegangan kerja yang dibutuhkan rangkaian kontrol, display, audio, PLL, dan bagian lainnya.

Gunakan multimeter untuk membandingkan tegangan input dan output regulator.

Kondisi Pengukuran Analisis
Input regulator ada, output tidak ada Periksa regulator dan beban pada output
Input dan output normal Lanjutkan pemeriksaan ke rangkaian kontrol
Input regulator hilang Kembali periksa jalur power sebelum regulator
Output regulator drop berat Periksa kemungkinan short pada jalur output

7. Periksa Tegangan Standby Rangkaian Kontrol

Jika regulator utama bekerja, jangan langsung beralih ke final amplifier. Kondisi mati total lebih erat hubungannya dengan power supply dan rangkaian kontrol dibandingkan bagian RF transmitter.

Periksa tegangan standby yang digunakan oleh rangkaian CPU atau kontrol. Tegangan ini harus stabil dan tidak mengalami drop ketika radio dinyalakan.

Jika tegangan supply kontrol normal tetapi display tetap mati, pemeriksaan dapat dilanjutkan ke jalur power display, rangkaian reset, clock oscillator, dan kontrol power.

8. Periksa Tombol POWER dan Jalur Kontrol

Pada beberapa desain radio, tombol power tidak langsung menghubungkan sumber DC ke seluruh rangkaian. Tombol tersebut dapat memberikan perintah kepada rangkaian kontrol untuk mengaktifkan power rail tertentu.

Karena itu, tombol power perlu diperiksa menggunakan multimeter.

Pastikan tombol menghasilkan perubahan kondisi listrik ketika ditekan. Jika tombol normal tetapi tidak ada respons, telusuri jalur kontrol dari tombol menuju rangkaian kontrol.

9. Periksa Solder Retak

Radio mobile yang sudah lama digunakan dapat mengalami masalah solder retak akibat panas, getaran kendaraan, atau tekanan mekanis pada konektor.

Area yang perlu diperiksa antara lain:

  • Konektor power.
  • Fuse holder.
  • Komponen regulator.
  • Konektor PCB.
  • Transistor atau komponen power.
  • Komponen yang mempunyai ukuran fisik besar.

Gunakan kaca pembesar untuk mencari solder retak, pad terangkat, jalur PCB putus, atau bekas panas berlebih.

10. Periksa Konsumsi Arus

Pengukuran konsumsi arus dapat memberikan petunjuk penting ketika radio mati total.

Gejala Kemungkinan Area Masalah
Arus hampir nol Power input, fuse, proteksi atau jalur DC putus
Arus langsung tinggi Kemungkinan short circuit
Arus naik sebentar lalu turun Periksa rangkaian startup dan kontrol power
Arus normal tetapi display mati Periksa display, regulator lokal dan rangkaian kontrol

Nilai arus tidak boleh dijadikan satu-satunya patokan karena konsumsi aktual dapat berbeda tergantung kondisi radio dan konfigurasi rangkaian. Gunakan pola perubahan arus sebagai petunjuk untuk menentukan area pemeriksaan berikutnya.

11. Jangan Langsung Menyalahkan Final Amplifier

Kesalahan yang sering terjadi ketika memperbaiki radio mati total adalah langsung mencurigai transistor final RF.

Final amplifier umumnya berhubungan dengan proses transmisi. Jika radio benar-benar tidak menunjukkan display, indikator, atau respons power, pemeriksaan sebaiknya dimulai dari jalur DC dan sistem kontrol.

Final transistor lebih layak dicurigai ketika gejalanya berupa radio hidup tetapi tidak dapat transmit, daya pancar sangat kecil, arus TX tidak normal, atau transistor mengalami short pada jalur RF/DC.

12. Diagram Alur Troubleshooting

Urutan diagnosa yang praktis dapat dibuat seperti berikut:

POWER SUPPLY
     ↓
13,8 V NORMAL?
     ↓
KABEL & KONEKTOR
     ↓
FUSE
     ↓
PROTEKSI POLARITAS
     ↓
JALUR DC PCB
     ↓
REGULATOR
     ↓
TEGANGAN STANDBY
     ↓
TOMBOL POWER / POWER CONTROL
     ↓
CPU / RESET / CLOCK
     ↓
DISPLAY & SISTEM KONTROL

Kesimpulan

Radio DR-135 MK3 mati total sebaiknya diperbaiki menggunakan metode troubleshooting bertahap. Jangan melakukan penggantian komponen secara acak sebelum mengetahui titik hilangnya tegangan.

Mulailah dari sumber power, konektor, fuse, proteksi polaritas, jalur DC, regulator, kemudian lanjutkan ke rangkaian kontrol. Penggunaan bench power supply dengan current limit dan multimeter akan sangat membantu menentukan apakah masalah berasal dari jalur putus atau short circuit.

Dengan metode tracing tegangan dari input menuju beban, proses perbaikan menjadi lebih cepat, aman, dan mengurangi risiko kerusakan komponen lain.

FAQ Troubleshooting DR-135 MK3

Kenapa DR-135 MK3 mati total padahal power supply 13,8 V normal?

Periksa kabel power, konektor, fuse, rangkaian proteksi polaritas, jalur PCB, dan regulator. Tegangan yang normal di power supply belum menjamin tegangan sudah sampai ke rangkaian internal radio.

Apakah fuse putus pasti penyebab radio mati?

Fuse putus memang dapat menyebabkan radio mati total, tetapi fuse yang putus harus dicari penyebabnya. Jika fuse kembali putus setelah diganti, kemungkinan terdapat masalah pada rangkaian setelah fuse.

Apakah final transistor bisa menyebabkan radio mati total?

Bisa apabila terjadi kerusakan berat atau short pada bagian power/RF tertentu, tetapi untuk gejala mati total pemeriksaan awal tetap sebaiknya dimulai dari jalur power dan rangkaian kontrol.

Berapa tegangan power supply yang digunakan?

Gunakan sumber DC sesuai spesifikasi radio. Untuk pengujian radio mobile kelas ini, 13,8 VDC merupakan tegangan nominal yang umum digunakan. Hindari memberikan tegangan melebihi spesifikasi perangkat.

Apa alat paling penting untuk memperbaiki radio mati total?

Multimeter digital adalah alat utama untuk tracing tegangan dan kontinuitas. Bench power supply dengan pengaturan current limit sangat membantu ketika terdapat dugaan short circuit.

Baca Selengkapnya: Analisa Radio DR 135 mati total
Cara setting Radio Yaesu vx-7R

Cara setting Radio Yaesu vx-7R

Halo rekan-rekan teknisi dan penggemar komunikasi radio. Pada artikel kali ini, kita akan membahas cara melakukan pengaturan berbagai fitur pada HT Yaesu VX-7R, mulai dari menyimpan frekuensi ke memori, memberi nama channel, mengatur power RF (transmit power), hingga mengunci (lock) keypad. Berikut adalah langkah-langkah selengkapnya:

YAESU vx-7R
gambar YAESU vx-7R

1. Cara Membuat Channel Memory

  • Pilih tampilan VFO.
  • Ketik frekuensi yang diinginkan.
  • Tekan dan tahan tombol F.
  • Tentukan nomor channel (CH) dengan cara memutar dial.
  • Tekan tombol F kembali untuk menyimpan.

2. Mengubah Fungsi Tombol F (Depan ke Samping)

  • Pilih menu SET MISC SETUP, lalu pilih NO. 4.
  • Pilih Function untuk mengaktifkan tombol F di bagian depan, atau...
  • Pilih MONI untuk mengaktifkan tombol F di bagian samping.

3. Cara Menampilkan Nama di Layar Monitor

  • Pilih tampilan VFO / MR.
  • Tekan tombol F.
  • Tekan dan tahan tombol MAIN.

4. Cara Memberi Nama pada Channel

  • Pilih tampilan MEMORY.
  • Tekan tombol F, lalu set ke 0.
  • Pilih menu SET BASIC SETUP NO. 11.
  • Tekan tombol BAND.
  • Ketik nama channel yang diinginkan. Putar dial untuk menggeser kursor.
  • Tekan PTT kalau sudah selesai untuk menyimpan.

5. Cara Mengubah Power RF (Daya Pancar)

  • Tekan tombol F.
  • Tekan tombol TX PO LK.
  • Pilih power level yang diinginkan: L1 (0,05 W), L2 (1 W), L3 (2,5 W), atau tanpa L untuk power maksimal (5 W).
  • Tekan tombol F, lalu tekan tombol TX PO LK kembali. Selesai.

6. Cara Mengunci (Lock) Keypad HT

Sebelum mengunci, tentukan terlebih dahulu fungsi apa saja yang ingin di-lock:

  • Masuk ke SET MODE dengan cara menekan tombol Func lalu SET.
  • Pilih menu BASIC SETUP : 10.
  • Pilih tipe LOCK yang diinginkan dengan menekan tombol MAIN atau SUB (lihat daftar mode di bawah).
  • Tekan PTT untuk menyimpan pengaturan tipe lock.
  • Untuk mulai mengunci, sekarang tekan dan tahan tombol TX PO LK selama 5 detik.

Daftar Mode LOCK:

  • KEY: Hanya mengunci keypad.
  • KEY+DIAL: Mengunci keypad dan tombol dial.
  • PTT: Hanya mengunci tombol PTT.
  • PTT+DIAL: Mengunci tombol PTT dan dial.
  • KEY+PTT: Mengunci keypad dan tombol PTT.

Kesimpulan

Melakukan pengaturan fitur pada HT Yaesu VX-7R seperti menyimpan frekuensi, mengubah daya pancar, hingga mengunci tombol sangat penting untuk menunjang kenyamanan dan kelancaran komunikasi. Pastikan Anda menyimpan setiap perubahan dengan menekan tombol yang diinstruksikan agar settingan tidak hilang. Semoga artikel ini bermanfaat untuk aktivitas komunikasi Anda di lapangan!

Baca Selengkapnya: Cara setting Radio Yaesu vx-7R
Cara Setting Manual HT Motorola CP-1660

Cara Setting Manual HT Motorola CP-1660

Halo rekan-rekan teknisi dan penggemar radio komunikasi . Pada kesempatan kali ini, kita akan membahas cara setting frekuensi secara manual (front panel programming) pada HT Motorola CP-1660. Mengisi frekuensi langsung dari keypad radio ini sangat berguna, terutama ketika kita sedang berada di lapangan dan tidak membawa kabel data atau komputer. Berikut adalah langkah-langkah mudahnya:

motorola cp 1660
Radio motorola cp 1660 vhf

1. Masuk Menu Dealer

  • Pastikan kondisi radio dalam keadaan OFF.
  • ON-kan radio, lalu tekan tombol samping (di bawah tombol MONITOR) sebanyak 6 kali.
  • Pilih opsi DEALER dengan menggeser tanda [►], lalu tekan PTT.
  • Setelah itu, OFF-kan radio.

2. Input Frekuensi RX (Penerimaan)

  • Dalam keadaan OFF, tekan dan tahan tombol MONITOR, lalu ON-kan radio.
  • Pilih opsi CHANEL, lalu tekan PTT.
  • Pilih nomor channel (NO CHANEL) yang akan diisi.
  • Pilih RX frekuensi, tekan PTT, lalu ketik frekuensi yang akan digunakan. Setelah selesai, tekan PTT kembali.
  • (Catatan: Apabila jumlah channel yang akan diisi lebih dari 1, maka semua frekuensi RX di tiap channel harus diisi terlebih dahulu secara berurutan).
  • Kemudian OFF-kan radio.

3. Input Frekuensi TX (Pancaran)

  •  
  • Dalam keadaan OFF, tekan dan tahan tombol MONITOR, lalu ON-kan radio.
  • Pilih opsi CHANEL, lalu tekan PTT.
  • Pilih nomor channel yang akan diisi (samakan dengan nomor channel RX sebelumnya).
  • Pilih TX frekuensi, tekan PTT, lalu ketik frekuensi pancaran yang akan digunakan. Setelah selesai, tekan PTT.
  • (Catatan: Sama seperti RX, jika ada banyak channel, isi semua frekuensi TX-nya terlebih dahulu).
  • Kemudian OFF-kan radio.

Kesimpulan

Setting manual HT Motorola CP-1660 sebenarnya sangat praktis dan cepat asalkan kita sudah membuka akses opsi DEALER terlebih dahulu. Selalu pastikan Anda menekan PTT untuk menyimpan setiap perubahan, dan teliti kembali angka frekuensi RX maupun TX yang dimasukkan, terutama jika Anda mengatur radio untuk komunikasi melalui repeater (duplex). Semoga artikel ini bermanfaat untuk kelancaran komunikasi rekan-rekan di lapangan!

Baca Selengkapnya: Cara Setting Manual HT Motorola CP-1660
Adjustment ALINCO Seri DJ-190, DJ-195, dan DJ-196

Adjustment ALINCO Seri DJ-190, DJ-195, dan DJ-196

Berikut merupakan prosedur setting dan adjustment pada pesawat HT ALINCO seri DJ-190, DJ-195, dan DJ-196. Prosedur ini ditujukan sebagai referensi teknisi dalam melakukan penyesuaian parameter radio, khususnya power output, kepekaan penerimaan, dan S-meter.

Catatan Penting: Sebelum masuk ke mode adjustment atau factory, terlebih dahulu masukkan frekuensi 145 MHz ke memory CH 1 sampai CH 16, kecuali pada bagian tertentu disebutkan bahwa channel tersebut dapat menggunakan frekuensi lain. Lakukan perubahan secara bertahap dan gunakan instrumen ukur yang sesuai agar hasil setting tidak keluar dari parameter kerja radio.

ALINCO DJ-180 untuk komunikasi radio di toko radio komunikasi
gambar alinco dj 180 radio legendaris

1. Masuk Mode Factory DJ-190

Untuk ALINCO DJ-190, prosedur masuk ke mode factory dilakukan sebagai berikut:

  • Pastikan pesawat dalam kondisi OFF.
  • Tekan dan tahan tombol UP dan DOWN secara bersamaan.
  • Sambil kedua tombol tetap ditekan, hidupkan pesawat dengan tombol POWER.
  • Setelah pesawat hidup, lepaskan tombol UP dan DOWN secara bersamaan.
  • Apabila prosedur berhasil, pada display LCD akan muncul tulisan: -chEc-

2. Masuk Mode Adjustment DJ-195 dan DJ-196

Pada ALINCO DJ-195/DJ-196, prosedur masuk ke mode adjustment berbeda dengan DJ-190:

  • Hidupkan pesawat.
  • Aktifkan keylock untuk mengunci papan tombol.
  • Masukkan kode: 490217
  • Setelah kode diterima, simbol keylock pada display LCD akan hilang. Hilangnya simbol keylock menunjukkan bahwa pesawat telah masuk ke mode adjustment.

3. Setting Power Output

Pengaturan power dilakukan melalui memory channel yang telah ditentukan. CH 2 digunakan untuk setting High Power, sedangkan CH 3 digunakan untuk setting Low Power.

High Power – CH 2

  • Masuk ke CH 2 yang sebelumnya telah diisi frekuensi 145 MHz.
  • DJ-190: Tekan dan tahan PTT, gunakan tombol UP/DOWN untuk menaikkan atau menurunkan level power. Setelah mendapatkan power maksimum, lepaskan PTT. Setting akan tersimpan otomatis.
  • DJ-195: Tekan dan tahan PTT, putar rotary untuk mengatur level power. Setelah mendapatkan power maksimum, lepaskan PTT. Setting akan tersimpan otomatis.

Low Power – CH 3

Untuk pengaturan Low Power, masuk ke CH 3. Prosedurnya sama seperti setting High Power, tetapi level power diatur ke nilai minimum yang dikehendaki.

4. Setting Kepekaan Penerimaan (CH 5)

  • Masuk ke CH 5.
  • DJ-190: Gunakan tombol UP/DOWN untuk mengatur level kepekaan.
  • DJ-195: Gunakan rotary untuk melakukan penyesuaian.
  • Atur hingga mendapatkan penerimaan sinyal yang paling sempurna atau paling optimal.
  • DJ-195: Tekan FUNC untuk menyimpan hasil adjustment.
  • DJ-190: Hasil setting tersimpan secara otomatis.

5. Setting S-Meter

S-Meter (1) Adjustment – CH 7

  • Masuk ke CH 7 (bisa diisi frekuensi apa saja).
  • Gunakan sumber sinyal yang paling lemah sebagai referensi.
  • DJ-190: Tekan DOWN untuk melakukan penyimpanan.
  • DJ-195: Tekan FUNC untuk menyimpan.

S-Meter (FULL) Adjustment – CH 8

  • Masuk ke CH 8 (bisa diisi frekuensi apa saja).
  • Gunakan sinyal yang paling kuat sebagai referensi.
  • DJ-190: Tekan DOWN untuk menyimpan.
  • DJ-195: Tekan FUNC untuk menyimpan.

Pembagian Memory Channel

Channel Fungsi
CH 2 Setting High Power
CH 3 Setting Low Power
CH 5 Setting Kepekaan (RX Sensitivity)
CH 7 S-Meter Level 1 (Sinyal Lemah)
CH 8 S-Meter Full (Sinyal Kuat)

Setelah seluruh parameter selesai disetel, lakukan pengecekan kembali terhadap power output, sensitivitas RX, dan indikasi S-meter untuk memastikan hasil adjustment sesuai dengan kondisi kerja radio.

Baca Selengkapnya: Adjustment ALINCO Seri DJ-190, DJ-195, dan DJ-196